Anda Tidak Akan Pernah Menyesali Hidup Anda Setelah Anda Membaca Kisah Ini # Bagian 1

Kisah ini tentang seorang jurnalis dan penulis buku asal Italia, Roberto Saviano, yang hidup selama 8 tahun dalam pengawalan dan perlindungan petugas keamanan.

Kisah hidup Roberto berubah secara total setalah ia menulis sebuah buku berjudul Gomorah, buku yang mengisahkan tentang kehidupan warga di kota Naples, Italia, yang tertekan akibat dari perseteruan dua klan Mafia.Anda Tidak Akan Pernah Menyesali Hidup Anda Setelah Anda Membaca Kisah Ini

Seperti apa kisah hidup Roberto, baca terus artikel ini. Setelah membaca sampai selesai, dengan sangat yakin, saya jamin anda pasti akan lebih bersyukur kepada Tuhan atas hidup anda saat ini.

Sebagai seorang penulis muda yang tumbuh dan besar di Caserta, daerah pinggiran di kota Naples, saya rasa makin lama semakin besar amarah saya. Telah terjadi perang antara dua klan mafia untuk memperebutkan kendali atas wilayah kekuasan dan kekerasan yang terjadi sudah terlihat sampai ke jalan-jalan di kota itu.

Saya ingin mengatakan kepada dunia seperti apa kondisi medan perang itu :

Keluarga korban merobek-robek pakaian mereka, bau kencing dari seorang pria yang tahu ia akan dibunuh mati tapi tidak bisa mengendalikan rasa takutnya, orang ditembak di jalan karena wajah mereka mirip dengan target yang dimaksud.

Saya harus tahu seperti kondisi para pekerja di industri yang dijalankan oleh Camorra. Saya harus tahu siapa sang pengirim pesan, siapa saja yang bekerja untuk klan mafia itu.Anda Tidak Akan Pernah Menyesali Hidup Anda Setelah Anda Membaca Kisah Ini2

Saya melakukan penyelidikan dengan membaca catatan pengadilan, mencari laporan berita dan transkrip persidangan. Saya membuat kesimpulan dari semua fakta yang ada dan dari cerita-cerita yang beredar seputar lingkungan saya.

Akhirnya saya menerbitkan sebuah buku berjudul Gomorrah.

Yang mengisahkan sesuatu hal yang begitu menyentuh. Buku Ini kemudian menjadi buku terlaris – begitu banyak orang membelinya bahkan Camorra pun tidak bisa mencegahnya.

Tidak lama setelah buku itu terbit di tahun 2006, seseorang meninggalkan pesan selebaran di kotak pos Ibu saya. Saya tinggal di Naples dan sang Ibu masih tinggal di Caserta. Dalam selebaran itu ada fotoku dengan gambar pistol yang mengarah ke kepala saya dan kata “ Terkutuk “.

Tidak lama setelah kejadian itu, saya diundang untuk memberikan kata sambutan pada malam inagurasi tahun ajaran baru di kota Casal di Principle, tempat asal dan rumah dari Klan Comorra yang paling berkuasa, kota itu  tercatat sebagai kota dengan kasus pembunuhan tertinggi di Italia.

Dari atas panggung saya sampaikan pesan secara langsung kepada bosnya Camorra, menyebut nama mereka di depan publik, dan  yang mana anda akan diintimidasi jika melakukannya.

Saya katakan kepada bahwa mereka harus pergi.

Seorang anggota parlemen Italia yang hadir dengan para pengawalnya, setelah selesai acara menawarkan kepada saya untuk pulang ke Naples bersama mereka karena sangat berbahaya jika saya pulang dengan menggunakan transportasi umum. Sayapun mengikuti saran mereka.

Bersambung ke bagian 2…..

Share
Latest Comments
  1. writing service August 22, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share