Anda Tidak Akan Pernah Menyesali Hidup Anda Setelah Anda Membaca Kisah Ini # Bagian 3

Silahkan baca bagian 2 terlebih dahulu, klik di sini..

Hidupku Sebelum dan Sesudah

Sebelum;

Berjalan susah payah tanpa henti menyusuri pinggiran kota sampai menemukan topik berita, kemudian dengan terburu-buru naik vespa mencapai tempat kejadian perkara terlebih dahulu, untuk melihat mayat korban pembunuhan sebelum dipindahkan.

Tiba di lokasi sebelum keluarga korban tiba, dengan suara teriakan yang mengerikan. Saya mengendarai vespa denganrute lokasi TKP, ruang sidang pengadilan, sampai penjara.

Saya mengikuti perseteruan antara dua kelompok mafia, klan Di Lauro dan klan Spaniard.

Rasanya seperti wartawan perang: setiap hari ada dua sampai tiga korban tewas, pembakaran, pemboman rumah. Luar biasa kejadian seperti itu masih terjadi di tengah-tengah Eropa.

Setelah,

Hidup bersama pengawal mengubah segalanya; hidup bersama rekan yang selalu bersenjata, sangat rumit dan kompleks.

Jika saya berada di Italia maka saya harus memberitahukan apa rencara dan agenda saya untuk 3 hari ke depan.

Apapun yang saya ingin lakukan harus sepengetahuan pengawal dan mereka akan memberikan masukan apa yang terbaik yang harus saya lakukan.

Jika saya ingin melakukan perjalanan ke luar negeri, saya harus menginformasikan ke departemen keamanan pemerintah satu minggu atau bahkan satu bulan sebelumnya, tempat di mana saya akan pergi dan apa jadwal kegiatan saya.

Di mana saya akan tinggal, tempat saya akan berkunjung, orang-orang yang akan saya temui. Lalu tunggu ijin apakah negara tujuan membolehkan saya untuk berkunjung.

Ketika berada di negara lain saya harus berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat untuk keperluan pengawalan. Awalnya sangat tidak nyaman, sangat berat bebannya, masalahnya sulit untuk diatur terutama ada kegiatan di depan public atau tempat umum.

Saya tidak percaya dengan siapa pun. Saya takut berteman dekat dengan seseorang dan takut untuk mencelakai pengawal saya. Saya selalu menganggap orang lain akan menjatuhkan saya. Ini sebenarnya adalah ketakutan seorang tahanan.

Ada teman baru, tempat baru, rutinitas baru, tapi selalu ada juga Roberto Saviano yang baru. Keadaan telah mengubahnya; dia telah menjadi orang yang berbeda. Mungkin menjadi orang yang lebih buruk. Lebih tertekan, terpisahkan, karena dia terus-menerus diserang. Segalanya hanya terfokus pada dirinya sendiri, karena dia menjadi simbol.

Saya menyadari impian setiap penulis, impian yang teman-teman saya tidak berani membayangkan. Jadi penulis bestseller internasional. Sebuah pecapaian yang luar biasa.

Tapi segalanya hilang: kesempatan hidup normal, kemungkinan untuk menjalin hubungan yang normal.

Hidup saya telah diracuni; Saya tercekik oleh kebohongan, tuduhan, fitnah, omong kosong yang tidak ada habisnya. Pada akhirnya anda akan terluka oleh karena hal itu.

Sejak tahun 2006, saya terus menerus mencari tempat untuk tinggal, sebuah tempat untuk menulis. Saya telah tinggal di begitu banyak rumah, di begitu banyak ruangan yang berbeda-beda.

Saya belum pernah tinggal di suatu tempat yang sama untuk jangka waktu beberapa bulan saja. Ruangan yang kecil, semuanya seperti itu, bahkan ada yang lebih kecil. Dan tiap ruangan selalu gelap.

Saya begitu mendambahkan ruangan yang besar, ruangan yang terang. Saya sangat menyukai balkon, teras: Saya merindukan teras seperti saya merindukan kesempatan untuk bepergian.

Tapi saya tidak punya pilihan dalam hal ini, saya tidak bisa membuat keputusan di mana saya akan tinggal.

Saya tidak bisa berkeliling melihat rumah-rumah: dua mobil antipeluru dan tujuh pengawal membuat kegiatan saya selalu terawasi.

Ketika orang mengetahui di mana saya berada dan di mana saya tinggal maka sudah waktunya untuk berpindah lagi.

Di Naples, tidak mungkin untuk menemukan rumah. Carabinieri yang mengawal saya mencoba untuk membantu saya mencari tempat untuk menyewa, melalui kontak mereka.

Cukup mudah sampai sang pemilik kontrakan mengetahui siapa saya. Begtu tahu siapa saya mereka akan berkata: “Aku tidak bisa, aku minta maaf, aku punya anak,” atau “Saya tidak bisa, saya baru saja menyewakannya kepada orang lain.” Dan akhirnya saya kembali lagi ke barak.

Saya masih terus mencari tempat sendiri.

Sementara itu, saya kembali dilucuti seperti sebelumnya, kembali ke ruang biara, setiap gerakan selalu di awasi dan dikendalikan.

Tas saya isi adalah: Satu tas untuk kaus kaki, celana pendek, T-shirt dan celana. Beberapa kemeja dan jaket. Obat-obatan, sikat gigi, pasta gigi dan charger ponsel. Satu tas untuk buku, makalah, Laptop. Itulah rumahku.

Banyak tulisan saya dalam beberapa tahun terakhir, termasuk tulisan ini, saya tulis di kamar hotel. Tidak begitu menarik, semua hotel yang saya datangi semuanya sama, menjengkelkan.

Semua kamar hotel itu gelap, dengan jendela yang tidak bisa dibuka. Saya sudah mengunjungi banyak negara – kadang tempat yang saya kunjungi terasa begitu lama, semua yang saya lihat cuma bagian dalam kamar, langit kota tertutup gelapnya jendela kaca mobil anti peluru.

Sebagian besar negara-negara yang saya kunjungi tidak berani membiarkan saya keluar sebentar untuk berjalan-jalan, bahkan dengan penjaga bersenjata yang mereka ditugaskan untuk menjaga saya.

Mereka biasanya memindahkan saya ke hotel lain setelah menginap semalam di hotel tersebut. Semakin saya berada di tempat yang beradab, tenang dan damai, semakin jauh dari para mafia dan semakin saya merasa semakin aman, semakin mereka memperlakukan saya seperti sebuah bom yang belum meledak dan kemungkinan dapat meledak kapan saja di muka mereka.

Di Italia, dan khususnya di Naples, saya lebih banyak tinggal di barak Carabiniere, ditemani bau semir sepatu; komentar berisik saat menonton pertandingan sepak bola di TV, suara erangan ketika mereka dipanggil untuk kembali bertugas atau tim lawan mencetak gol; Sabtu, Minggu, hari mematikan.

Hari-hari seperti dihabiskan di dalam perut kosong seekor ikan paus. Anda dapat mendengar teriakan di luar, Anda bisa merasakan ada orang yang bergerak di sekitar, Anda tahu hari itu hari yang cerah, musim panas telah dimulai.

Saya ingat di awal kehidupan saya yang serba anti peluru, ketika terbangun suatu malam di barak, saat itu gelap dan saya tidak mengenali apa pun.

Saya tidak tahu di mana aku berada.

Sejak saat itu kejadian yang sama, saya alami berkali-kali, saya bangun di malam hari dan tidak tahu di mana saya berada.

Terakhir kali saya berada di Naples, saya tinggal di barak yang digunakan sebagai biara. Barak tersebut memiliki teras dengan pemandangan laut di ujung sana.

Ketika matahari terbit saya berhasil melihatnya dan itu menjadi pemandangan terindah di dunia.

Saya sering ditanya apakah saya menyesal menulis buku Gomora. Biasanya, saya mencoba untuk berkata jujur bahwa , “Sebagai manusia, ya saya menyesal, sebagai penulis, tidak ada penyesalan.”

Tapi itu bukan jawaban sebenarnya. Selama hidup saya, saya benci Gomora. Awalnya, ketika saya memberitahu pewawancara bahwa jika saya tahu apa yang akan terjadi, saya tidak akan pernah menulis buku, wajah pewawancara itu akan tertunduk.

Jika itu pertanyaan terakhir dalam wawancara, saya akan pergi dengan rasa tidak enak di mulut saya, rasanya seperti tidak ada wawancara.

Saya sadar bahwa saya harus mengatakan, tentunya, dan besoknya saya lakukan seperti sebelumnya lagi.

Semua yang telah saya korbankan, akan kembali berulang. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya rasa saya punya hak untuk berbagi penyesalan, mengakui, saya merindukan waktu ketika saya menjadi manusia yang bebas.

Apapun harapan saya terhadap hidup saya, nyatanya, saya telah menulis Gomorrah dan ada harga yang saya harus bayar tiap harinya.

Bersambung ke bagian 4…

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share