Judulnya Indonesia’s Marlboro Boys

Sebuah website internasional beralamatkan theatlantic.com memberi judul pada salah satu postingnya “Indonesia’s Marlboro Boys” Bocah-bocah Marlboro Indonesia, isinya bukan tentang anak-anak Indonesia yang bergaya dalam kostum Cowboy tapi dalam posting itu disebutkan bahwa 70 persen laki-laki di Indonesia berusia di atas 20 tahun adalah perokok.

Foto foto bocah-bocah perokok indonesia 4

Ya kita semua rakyat Indonesia pasti maklumlah dengan data itu, namun yang menggugah perhatian adalah sorotan tajam yang disampaikan oleh theatlantic.com bahwa seperti tidak mau ketinggalan, para balita sampai anak-anak remaja ikut juga mencicipi hasil produksi Marlboro.

Posting tersebut tidak lupa menyertakan beberapa foto-foto karya photojurnalis Michel le Siu yang sangat bagus namun pesannya begitu menyayat hati.

Foto foto bocah-bocah perokok indonesia 3

Feeling So Lucky, kenapa beruntung? Setelah melihat dan meresapi foto-foto itu, maka anda yang sudah terbebas dari asap rokok pastinya akan merasa begitu beruntung hidup anda. Saya sendiri merasakan keberuntungan itu dan sangat patut untuk disyukuri, bagaimana tidak, sudah 15 bulan berlalu pencapaian saya adalah hari-hari kini tanpa bara api di depan hidung , tanpa kepulan asap di wajah.

Mencapai itu tidak mudah tapi tidak sulit juga, semua berawal dari pikiran, ya atau tidak pikiran yang tentukan, badan tinggal menjalankan. Teori sana sini, kiat ini itu, tidak akan mempan jika pikiran berkata lain. Bagi saya yang sudah dewasa, keluar dari kepulan asap rokok rasanya butuh perjuangan besar, butuh motivasi yang kuat dan super strong determinasi, butuh konsistensi tapi bagi anak-anak itu keluar dari kepulan asap rokok bagaimana caranya, apakah resiko penyakit dan kematian bisa membuat mereka berhenti? Di usia yang begitu muda, saya yakin jika sudah jadi pemadat berat dan untuk berhentinya akan sangat sulit, butuh dukungan yang kuat dari lingkungan sekitar.

Foto foto bocah-bocah perokok indonesia 2

Mengetahui bahwa para Marlboro Boys dengan konsumsi satu sampai dua bungkus perhari, saya cuma bisa berkomentar pelan: Bagaimana cara mengehentikan mereka? Dari mana uang untk membeli rokok? Apakah orang tuanya cukup mampu secara ekonomi? Apa anak-anak itu sudah mampu berpikir positif untuk berhenti? Kemungkinan besar anak-anak itu berpeluang untuk tetap merokok sampai usia 20 tahun, dan jika di usia itu baru mungkin mereka tersadar maka di usia itu juga mereka sudah begitu lama mengalami ketergantungan dan sulit untuk keluar.

Saya pernah menonton acara di TV, bagaimana Kak Seto berhasil membebaskan seorang anak balita dari kecanduan rokok, namun usaha yang diberikan Kak Seto luar biasa, sangat konsisten, tidak kenal menyerah, penuh kesabaran dan belas kasih, penuh dedikasi dan butuh waktu proses yang panjang.

Anak-anak, saya yakin tidak punya kesadaran apapun tentang bahaya merokok bagi diri sendiri atau pun bagi orang lain di sekitarnya, bocah-bocah perokok pastilah lebih tinggi tingkat ketergantungannya ketimbang orang dewasa mengingat mereka sedang dalam masa pertumbuhan, coba bandingkan kondisi ketika anak yang perokok tidak merokok dalam waktu yang lama dari biasanya maka badan rasanya lemas tidak bertenaga, orang dewasa masih bisa diatasi dengan melakukan aktivitas lain sedangkan anak-anak hanya bisa merengek, rengekan yang tidak sanggup untuk didengar para orang tua yang pada akhirnya membolehkan mereka kembali ke rokok. Tidak ada bahan makanan yang mampu menggantikan rokok menambah daftar panjang ketergantungan anak pada rokok.

Foto foto bocah-bocah perokok indonesia

Kak Seto dalam tanyangin TV menyatakan bahwa anak mesti dialihkan perhatiannya dari rokok, bahwa anak tidak bisa cuma diberi arahan saja tapi orang dewasa harus juga terlibat secara positif dalam setiap aktivitas mereka dan secara perlahan mengarahkan mereka ke jalan yang benar.

Salah satu foto yang cukup menyentuh adalah foto di mana seorang bocah sedang merokok sambil tiduran di sofa, bersebelahan dengan sang ibu yang sedang menyusui si kecil adiknya. Ketika masih aktif merokok, kejadian seperti ini adalah musibah buat saya, ketika si kecil lahir sampai sekarang saya tidak pernah merokok di dalam rumah ketika anak dan ibu sedang di rumah, saya hanya berani merokok di dalam ketika mereka sedang tidak di rumah.

Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa ketika anak kedua kami lahir saya sudah tidak lagi merokok.

Apa yang salah dengan situasi ini? Apakah orang tua tidak paham jika asap yang menyesakan itu kalau terhirup menjadi racun, atau memang sudah tradisi turun temurun di rumah, bahwa merokok di dalam rumah di antara anggota keluarga lain adalah hal yang sudah menjadi warisan nenek moyang? Tradisi pembiaran, itu mungkin yang terjadi di banyak daerah di Indonesia, menganggap hal tersebut sudah tradisi dan hal tersebut adalah biasa-biasa saja.

Faktor lingkungan sudah pasti jadi penyebab anak atau seseorang merokok. Saya pernah mendapati anak pertama saya mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok yang saya gelatakan begitu saja di meja, setelah memegang batang rokok ia lalu bergaya mempraktekan seperti yang dilakukan orang saat merokok, sangat percaya diri namun bedanya cuma tidak ada api saja.

Melihat lalu membanyangkan anak kita yang terpampang dalam foto-foto karya Michel le Siu sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata mana pun, saya bersyukur bahwa saat ini di rumah kami tidak ada lagi batang rokok yang bisa dijadikan bahan gaya-gayaan dan tidak ada lagi sosok perokok yang akan dicontohi kelak atau dijadikan sumber motivasi atau alasan menjadi perokok seperti sang ayah jika dewasa nanti.

anak anak indonesia yang perokok berat

Seorang teman, perokok berat, mengaku bahwa ia pertama kali merokok ketika di kelas 2 SD, awal mulanya ia di suruh oleh sang ayah untuk mengambilkan rokok dan sekalian membakarnya untuk sang ayah. Lambat laum tentunya sang anak semakin terampil, akrab dan semakin tergoda denganrasa asap, lalu akhirnya ketagihan.

Dua sudut pandang yang berbeda tentang konsumsi rokok di Indonesia, di mana orang luar mungkin menilai bahwa harga rokok yang murah menjadi penyebab mewabahnya Marlboro Boys di Indonesia namun bagi pejabat pemerintah, rokok adalah sumber pendapatan negara yang besar. Tidak mungkin begitu saja menghapus industri rokok tanpa kehilangan devisa.

Anda tahu di daerah-daerah, bibit tembakau sudah di wariskan secara turun temurun dalam keluarga petani, tembakau bisa tumbuh di mana saja termasuk di halaman rumah, pembuatan rokok, mulai dari menanam tembakau, memanen daun tembakau, merajang dan mengeringkan daun yang terajang adalah pemandangan biasa di masyarakat pedesaan, tidak sulit untuk membuat rokok apalagi mendapatkanya secara gratis, anda cukup bertamu ke tetangga maka salah satu jamuaan yang anda dapatkan adalah tembakau kering lengkap dengan kertas pembungkusnya.

Mengurangi konsumsi rokok di negri ini, bukanlah perkara mudah, orang luar boleh saja mencela bahwa negara ini tidak punya power untuk menegakkan undang-undang, bahwa negara ini tidak bisa melindungi rakyat kecilnya, bahwa negara ini begitu takutnya sama raksasa industri rokok.

TETAPI yang tidak diketahui adalah bagaimana sejarah dan tradisi rokok yang sudah ada ratusan tahun, tembakau yang merupakan cikal bakal rokok sudah merasuk ke dalam aspek kehidupan berbudaya, sudah menjadi tradisi dan mungkin sudah bagian dari adat budaya, orang luar mungkin tidak paham kalau sumbangan devisa dari industri rokok cukup besar untuk menopang keuangan negri ini, orang luar mungkin tidak paham kalau beberapa raksasa rokok tanah air sudah mulai perlahan mengalihkan modal mereka ke bidang lain yang tidak ada hubungan lagi dengan industri rokok.

Akhir kata, untuk mulai meninggalkan rokok, kita tidak perlu harus sampai mendengarkan kata-kata dan publikasi buruk pihak luar, yang mesti kita pastikan dalam pikiran kita bahwa rokok merusak kesehatan fisik dan mental, memiskinkan, memelaratkan dan membunuh kita dan anak-anak kita. Tradisi dan kebiasan yang tidak baik tidak perlu dipertahankan, harus ditinggalkan.

Sumber inspirasi: www.theatlantic.com

Sumber gambar: www.michellesiu.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share