Beberapa fakta berikut ini rasanya bisa membuat orang berhenti main game

Menghentikan kebiasaan main game di hape atau gadget banyak macam dan cara, salah satunya adalah dengan menunjukan peristiwa-peristiwa buruk yang dialami para gamers yang sudah kecanduan sampai lupa waktu.

Berikut peristiwa dan pendapat para pakar yang kiranya dapat membuat orang tidak sampai lupa diri lagi saat main game.

  1. Badan Kesehatan Dunia (WHO) kini menggolongkan kecanduan main game sebagai gangguan mental.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) berencana menerbitkan buku panduan International Classification of Diseases (ICD-11) pada tahun 2018 ini dengan memasukkan kecanduan main game sebagai salah satu kategori gangguan jiwa baru, disebut sebagai gaming disorder (GD).

Gaming disorder diusulkan untuk dimasukkan di bawah kategori besar “Gangguan mental, perilaku, dan perkembangan saraf”, khususnya di bawah subkategori “Gangguan penyalahgunaan zat atau perilaku adiktif.”

Ini berarti pakar kesehatan di seluruh dunia menyetujui bahwa kecanduan main game dapat memiliki dampak yang menyerupai kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang. Usulan ini dibuat karena melihat adanya bukti peningkatan pesat dalam kasus kecanduan game dari berbagai belahan dunia, yang juga disertai dengan permintaan rujukan terapi pengobatan di dokter.

  1. Gadis 21 Tahun Buta Setelah Main Game di Ponsel

Remaja 21 tahun menderita kebutaan setelah 24 jam bermain game tanpa henti via smartphone. Menurut gadis yang menyebut dirinya Xiaojing (nama samaran), bermain game adalah satu-satunya hobi yang ia miliki.

Xiaojing sering bermain game di smartphone. Ia bahkan kurang tidur dan tak memerhatikan kesehatan tubuhnya.

Game yang ia mainkan kala itu adalah “Honour of Kings” yang dikembangkan raksasa China, Tencent. Game tersebut sangat populer di China, hingga menghimpun 200 juta pengguna. Setelah beberapa jam asik main game, Xiaojing merasakan penglihatan mata sebelah kanannya buram hingga benar-benar hitam. Ia hanya bisa melihat dengan mata kiri.

Ia pun panik dan segera ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosis Xiaojing terkena retinal artery occlusion (oklusi arteri retina). Penyebabnya tak lain karena terlalu intens di depan layar smartphone.

Retinal artery occlusion memiliki rekam jejak medis yang buruk selama ini. Kebanyakan orang yang mengidap penyakit itu mengalami kebutaan totoal pada akhirnya. Hanya 20 hingga 35 persen yang pulih. Dokter yang menangani kasus Xiaojing pun tak berani menjamin apakah penglihatan gadis tersebut bisa kembali seperti semula.

Masih nekat juga? Masih ingin melihat dengan normal? Berhenti main game sekarang juga!!

  1. Meninggal Setelah Main Game 22 Jam

Seorang ayah tiga anak  berumur 35 tahun di Virgina Beach, AS, bernama Brian Vigneault, meninggal dunia setelah bermain game selama 22 jam non-stop, pada pada 19 Februari lalu.

Kala itu, ayah dari tiga orang anak itu sedang memainkan game online World of Tanks. Hingga saat ini, belum diketahui penyebab pasti dari meninggalnya Vigneault. Kala itu, pemain game dengan nama samaran Poshybrid itu sedang menyiarkan permainannya melalui layanan siaran langsung Twitch. Ia menyiarkan permainan demi tujuan yang mulia, yakni untuk disumbangkan penghasilannya ke lembaga Make-A-Wish.

Vigneault, kala itu, demi mendapatkan sumbangan, ia berjanji untuk bermain non-stop selama 20 jam ke atas dalam hari-hari tertentu.

Menurut moderator siaran, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Kotaku, Rabu (22/2/2017), Vigneault berhenti bermain setelah menyentuh angka 22 jam. Kala itu, waktu sudah menunjukkan pukul 3.30 pagi waktu setempat.

Hari tersebut dikatakan sudah menjadi puncak dari kegiatan amal tersebut. Pada jam itu, sebagian besar penonton mengira Vigneault sudah pergi berisirahat.

Keesokan harinya, seorang teman mengatakan bertemu dengan akun milik Vigneault di sebuah layanan chatting. Akan tetapi, yang menjawab panggilan tersebut ternyata bukan Vigneault, melainkan pihak kepolisian Virgina Beach. Pihak kepolisian kemudian memberikan informasi yang membuat sang teman kaget, Vigneault ternyata sudah meninggal.

Siapa lagi yang mau nyusul Vigneault??

  1. Riset Terbaru Kebiasaan Main Game FPS, Berbahaya untuk Otak

Dua peneliti dari Université de Montréal dan McGill University mempublikasikan penelitian mereka tentang psikiatri molekular.

Dua profesor bernama Gregory dan Veronique Bohbot menemukan keterkaitan antara game first-person shooter (FPS) dan reduksi materi abu-abu dalam hippocampus. Materi abu-abu merupakan gen yang terkait kecerdasan, sedangkan hippocampus adalah bagian otak yang mengonsolidasi ingatan pendek ke ingatan jangka panjang serta kemampuan navigasi spasial.

Mereka kemudian melakukan eksperimen dengan merekrut responden berusia 18-30 tahun. Responden tersebut sebelumnya belum pernah bermain video game. Dalam eksperimen yang berjalan selama empat tahun, responden diarahkan untuk bermain game FPS dalam pengawasan kedua profesor tersebut.

Subyek penelitian dibagi menjadi dua, mereka yang menggunakan ingatan spasial untuk menavigasi dan mereka yang menggunakan inti nukleus. Inti nukleus dalam otak memiliki fungsi untuk membentuk kebiasaan. Dari hasil eksperimen, sebanyak 85 persen dari mereka yang bermain lebih dari enam jam seminggu mengalami peningkatan pada inti nukleus sekaligus penurunan pada materi hippocampus.

Artinya, secara esensial, bermain FPS menurunkan kemampuan mengingat alih-alih mempengaruhi perilaku.

Bagi mereka yang mengalami penurunan materi abu-abu dalam hippocamus memiliki risiko tinggi mengalami peningkatan post-traumatic disorder (PTSD). Pada usia muda, mereka memiliki kecenderungan mengalami depresi dan pada usia tua akan mengalami Alzhaimer.

Semakin lama durasi bermain game akan semakin memperparah kerusakan otak. Menurut peneliti, kebiasaan menggunakan inti nukleus membuat pemain menjadi “auto pilot learning” yang tentu tidak baik.

Sebagian besar peta FPS relatif kecil dengan beberapa titik penting untuk menembak, penyergapan dan sejenisnya. Kebanyakan pemain akan berusahan mengakses salah satu titik secepat mungkin dengan melatih otak untuk menavigasi di dalam ruangan virtual yang kecil. Inilah yang akan menimbulkan kerusakan.

  1. Main “Game Online” membuat orang lumpuh

Seorang remaja di Cina mendadak lumpuh dari pinggang ke bawah setelah main game online selama 20 jam nonstop.

Dilaporkan situs berita QQ.com, remaja yang tidak disebutkan identitasnya itu tengah bermain game online di sebuah kafe internet di Jiaxing, provinsi Zhejiang.

Pemuda itu diketahui telah mulai bermain pada Sabtu (27/1/2018) sore dan masih bermain sampai Minggu (28/1/2018) siang.

Pemuda tersebut baru sadar saat hendak ke toilet, dia menyadari kalau dia tidak bisa menggerakkan kakinya dan tidak dapat merasakan tubuh bagian bawahnya.

Salah seorang teman remaja itu, yang ada di lokasi mengatakan, temannya mendadak tidak dapat menggerakkan bagian bawah tubuhnya.

“Sepertinya dia benar-benar kehilangan indera perasanya dan tidak bisa bergerak sama sekali. Kami sampai harus menelpon ambulans,” kata dia dilansir dari Daily Mail.

  1. Main “Game Online” 22 Hari Tanpa Henti, Remaja Rusia Tewas

Seorang remaja asal kota Uchaly, Republik Bashkortostan, Rusia, tewas setelah bermain sebuah game online selama 22 hari nyaris tanpa henti. Rustam (17), nama remaja itu, harus berada di rumah karena mengalami patah kaki.

Karena merasa bosan, Rustam kemudian memainkan sebuah game online bernama Defence of the Ancients nyaris tanpa henti, kecuali untuk makan dan tidur. Penyidik mengatakan, remaja ini memang kecanduan permainan tersebut. Selama satu setengah tahun terakhir, Rustam setidaknya sudah 2.000 jam bermain.

Kedua orangtua Rustam mengatakan kepada situs BlokNot, biasanya mereka mendengar jemari Rustam menekan-nekan keyboard komputernya. Namun pada 30 Agustus lalu, tak ada suara yang terdengar dari dalam kamarnya.

Saat kamar dibuka, Rustam tak bergerak. Kedua orangtuanya segera melarikan bocah itu ke rumah sakit. Namun, dia dinyatakan meninggal dunia tak lama setiba di rumah sakit. “Dalam 22 hari terakhir, korban diduga bermain game nyaris tanpa henti. Dia berhenti hanya untuk tidur sejenak dan menyantap kudapan,” kata juru bicara kepolisian Uchaly, Svetlana Abramova.

  1. Uang habis gara-gara kecanduan main game online

Pria asal California, Amerika Serikat yang bernama Kevin Lee Co ini, misalnya, menghabiskan 1 juta dollar AS atau lebih dari Rp 13,4 miliar untuk permainan mobile Game of War. Parahnya lagi, duit berjumlah besar itu bukan miliknya sendiri, melainkan hasil curian dari perusahaan alat berat Holt tempat Co bekerja sebagai akuntan.

Ketika diseret ke meja hijau, Co mengaku bersalah melakukan penggelapan dana dan pencucian uang. Nilainya secara total mencapai 5 juta dollar AS selama menjabat sebagai akuntan selama 6 tahun. Duit hasil curian lantas dipakai berfoya-foya.

Antara lain dengan membeli mobil mewah, melakukan operasi plastik, pergi ke pertandingan olahraga, dan bermain Game of War tadi. Co pun menghadapi ancaman hukuman penjara total hingga 40 tahun, berikut denda senilai 750.000 dollar AS, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Inquirer, Jumat (16/12/2016).

  1. Kecanduan game buat beberapa remaja nekat merampok kotak amal

Empat remaja diamankan warga karena kedapatan sedang membongkar kotak amal di Jalan Wak Dalek, Pontianak, Kalbar, Kamis (30/7/2015). Berdasarkan informasi yang dihimpun, usai diamankan warga, keempat remaja tersebut langsung digelandang ke Mapolresta Pontianak.

Keempat remaja tersebut di antaranya Ed (16), D (16), A (15) dan M (16) tertangkap warga ketika sedang membongkar kotak amal pembangunan sebuah masjid yang dititipkan di sebuah toko pakaian. Wakil Kasat Reskrim Polresta Pontianak, AKP Abdul Azis membenarkan kejadian tersebut.

Namun, saat ini menurutnya kasus tersebut masih dalam proses pemeriksaan pihak kepolisian. “Masih kita dalami motifnya maupun kemungkinan adanya kejadian yang sama sebelumnya,” ujarnya.

Dari pengakuan salah satu pelaku, Ed, toko baju yang dititipi kotak amal tersebut merupakan milik orang tuanya sendiri. Kebetulan pada saat kejadian, Ed sedang bertugas menjaga toko pakaian tersebut. Advertisment “Saat saya jaga, tiga teman saya yang lain datang ke toko. Kami kemudian membawa kotak amal itu ke gang sebelah untuk dibongkar,” kata Ed, Kamis (30/7/2015).

Ed mengatakan, saat sedang membongkar kotak amal, mereka kemudian dipergoki oleh warga dan langsung membawa mereka ke Polresta Pontianak. “Rencana uangnya mau digunakan untuk main game online point blank di warnet,” tuturnya.

Semoga berguna.

Sumber: Kompas.com

Share

Share