Mengapa Mantan Karyawan Instagram Memutuskan Untuk Tidak Lagi Menggunakan Aplikasi Instagram

Bailey Richardson adalah salah satu karyawan yang bekerja di Instagram pada tahun 2012 ketika Facebook membeli aplikasi berbagi foto dan video tersebut seharga 1 miliar dolar.

Pada malam tanggal 26 September 2018, Bailey Richardson masuk ke Instagram-nya untuk terakhir kali.

Dengan celana putihnya yang ia jadikan sebagai kanvas untuk menulis pesan terakhirnya kepada 20000 pengikutnya, Bailey Richardson menulis:

“Waktunya telah tiba bagi saya untuk menghapus Instagram saya, terima kasih atas semua kebaikan selama bertahun-tahun.”

Asal tahu saja, bagi para pengguna internet di Amrik sana, keputusan Richardson bukanlah sesuatu yang baru.

Menurut riset yang dilakukan oleh Pew Research Center, 68 persen orang Amerika telah berhenti secara permanen dan juga sementara waktu dari media sosial sepanjang tahun 2018.

Richardson bukanlah seorang pengamat atau peneliti yang sedang menyelidiki keterkaitan antara penyakit akibat dampak dari teknologi internet, bagi dia dan empat orang mantan karyawan Instagram lainnya, alasan utama berhenti ber- Instagram adalah karena  kondisi Instagram saat ini sudah jauh berbeda dibanding awal mula mereka bekerja.

Saat ini Instagram sudah kehilangan semangat kebersamaan seperti mereka rasakan di awal, IG sudah kehilangan nilai-nilai artistik, dan juga hilangnya semangat awal yang melatarbelakangi lahirnya penemuan Instagram itu sendiri, sehingga menjadikan sosmed itu besar seperti sekarang.

Saat ini yang ada adalah semangat yang berorientasi kepada pasar atau sekedar mencari keuntungan saja.

Sekarang ini Instagram sudah banyak berisikan selebriti yang direkayasa untuk mendatangkan keuntungan pasar, situasi semacam ini menurut Bailey Richardson, seolah tidak lagi menghargai dan mengakui usaha dan kontribusi waktu dan pikiran yang sudah mereka (para karyawan yang bekerja sebelum dibeli facebook) dedikasikan saat mengembangkan Instagram saat awal hingga sukses seperti saat ini.

“Pada hari-hai di awal munculnya IG, anda merasa postingan anda dilihat oleh orang-orang yang peduli tentang Anda dan hal yang anda peduli. Perasaan itu sudah benar-benar hilang untukku sekarang.” kata Richardson, yang resign dari Instagram pada tahun 2014 dan kemudian mendirikan sebuah start-up.

Pemicu keputusan Richardson untuk keluar dari Instagram datang dari Co-Founder atau para pendirinya, Kevin Systrom dan Mike Krieger, yang tanpa diduga mengumumkan bahwa mereka keluar dari perusahaan.

Dengan keluarnya mereka berdua, Richardson dan karyawan lainnya khawatir bahwa pihak Facebook akan menekan apapun bentuk kebebasan yang sudah tercipta selama perusahaan tersebut berdiri.

Besoknya Richardson mengirimkan salam perpisahan kepada Instagram.

Apa yang dialamin oleh Richardson, bahkan di Silicon Valley, sudah menjadi hal yang umum. Sering terdengar karyawan sebuah perusahaan Start-Up yang frustrasi dengan manajemen yang mengakuisisi perusahaan itu, apa yang diperlihatkan oleh karyawan Instagram adalah yang paling mencuri perhatian: Orang-orang jarang menyumpahi atau mengkritik produk yang mereka bangun, terutama ketika saat-saat sukses yang diraih. Instagram tahun ini sudah memiliki 1 miliar pengguna.

Orang-orang yang sudah lama bekerja di aplikasi jejaringan sosial melihat bahwa ada hubungan yang erat antara kebebasan berekspresi yang mereka fasilitasi sebagai kekuatan untuk suatu kebaikan dan itu adalah bukti kontribusi yang mereka lakukan untuk masyarakat.

Bagi mereka, pertanyaan publik tentang peran jejaring sosial  dalam menjalankan dan memainkan peran dalam berdemokrasi dan dalam kehidupan pribadi, melebihi kekhawatiran atas persoalan privasi dan kesehatan, ini adalah hal yang amat sangat pribadi sifatnya.

Tiga dari karyawan Instagram yang bergabung sejak awal, termasuk Richardson, telah menghapus akun mereka secara permanen dan sifatnya sementara waktu, kondisi ini seperti menggambarkan Instagram itu seperti orang yang meminum obat yang berdosis tinggi yang efeknya adalah mengurangi karakter aslinya.

Salah seorang dari mereka mengatakan dia merasa sedikit malu untuk memberi tahu orang-orang bahwa dia bekerja di Instagram. Dua dari karyawan yang dari awal bekerja mengatakan  mereka sudah jauh berkurang menggunakan Instagram.

Perubahan ini adalah merupakan bagian dari krisis eksistensi yang dialami induk sosmed facebook secara keseluruhan, dimana secara perlahan para eksekutif top mereka sudah mulai resign pada tahun ini, termasuk pimpinan dari perusahaan yang diakuisisi: Oculus, WhatsApp dan Instagram.

Sejumlah orang pun sudah mulai mencampakkan facebook. Facebook sudah kehilangan  4 juta orang pengguna di Eropa dan makin lama makin banyak di Amerikan serikat yang mulai meninggalkan facebook.

Karyawan Instagram, termasuk Richardson, mengatakan mereka berharap kekhawatiran mereka tidak akan dianggap sebagai nostalgia masa lalu, tapi dilihat sebagai peringatan bagi para management perusahaan sebagai persoalan yang harus diperbaiki guna membangun sesuatu yang lebih baik.

“Ada begitu banyak tekanan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya berjangka, untuk menggunakan kata kunci Silicon Valley,” kata Josh Riedel, karyawan ketiga setelah Systrom dan Krieger. “Tapi ketika Anda memiliki lebih dari satu miliar pengguna, ada yang hilang di tengah perjalanan.”

Ian Spalter, kepala tim desain Instagram, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa pengalaman seorang pengguna Instagram bersifat subjektif, satu orang merasa frustrasi tapi bagi orang lain itu adalah suatu kesenangan – dan bahwa aplikasi tersebut tidak dirancang untuk menjadi mesin penyedot waktu. “Kami bukalah sebuah permainan untuk membuat Anda merasa lebih buruk dari saat anda masuk “, katanya.

Salah satu pendiri perusahaan yang diakuisisi Facebook, WhatsApp, Brian Acton, telah secara aktif mendorong orang-orang untuk menghapus Facebook, meskipun ia masih menjadi pendukung dan pengguna WhatsApp. (Dia juga membiayai aplikasi chat saingan WA.)

Mantan eksekutif Facebook lainnya telah menyatakan penyesalan tentang produk yang mereka bangun. Bos Instagram Kevin Systrom, terus memperjuangkan layanan tersebut tetapi baru-baru ini mengatakan tentang kepergiannya: “Anda tidak meninggalkan pekerjaan karena hal yang luar biasa bagusnya, bukan?”. (Pasti ada yang salah jika anda sampai meninggalkan sebuah perusahaan)

Sumber: Washingtonpost.com

 

Share

Share