Cerita Motivasi Buat Para IT Support

Sudah lama saya menyimpan majalah itu di file kabinet kantor, suatu ketika saya butuh map dan yang ada cuma majalah tipis yang kurang menarik. Tanpa semangat saya mengambil majalah itu dan menggunakannya sebagai map kertas. Setelah habis masa tugasnya sebagai map maka sekarang tempatnya lebih cocok di kotak sampah.

Tapi tunggu dulu!! Apa sih yang menarik dari majalah tipis ini, yang isinya cuma 20 halaman, sampai ada orang yang mau menerbitkannya. Pasti si penerbitnya banyak duit atau mungkin ada sesuatu yang berharga dalamnya? Ada satu halaman yang menarik perhatian, sebuah artikel berjudul Sukses karena Melayani oleh Paulus Winarto.

Bicara soal melayani, menurut saya IT support adalah satu-satunya profesi dalam dunia IT yang paling tinggi tingkat sibuknya, terutama dalam memberikan pelayanan kepada para user jika dibanding dengan bidang IT lain. Seorang IT support biasanya datang sebelum penggunanya datang, memastikan bahwa semuanya siap untuk digunakan. Pulang setelah semuanya pulang dan memastikan tidak ada problem yang belum terselesaikan.

Saya punya sedikit cerita yang dikutip dari artikel di majalah tersebut yang sekiranya dapat memotivasi teman-teman IT support untuk terus semangat dalam berkerja dan melayani.

Di sebuah malam berguntur, tampak sepasang orang tua yang sudah lanjut usia dan kedinginan memasuki sebuah hotel di sebuah kota di Amerika Serikat. Keduanya berharap bisa menemukan kamar untuk menginap. Namun yang terjadi sebaliknya, si penerima tamu yang sedang bertugas pada saat itu berkata kepada mereka “ Maaf bapak dan ibu, kamar di hotel kami penuh, sama dengan hotel-hotel lainnya di kota ini karena saat ini sedang ada tiga konferensi besar”

Setelah diam sejenak, sang penerima tamu itu kembali berujar, “ Tapi saya tidak akan membiarkan bapak dan ibu kedinginan di luar pada jam 1 pagi begini. Maukah bapak dan ibu tidur di kamar saya? Ya, sebuah kamar kecil yang dikhususkan bagi karyawan. Memang tidak seperti kamar hotel, namun bapak dan ibu dapat beristirahat dengan tenang di dalamnya.”

Semula pasangan itu agak enggan untuk menerima tawaran itu, namun sang penerima tamu berkata “Jangan khawatirkan di mana saya akan tidur. Saya masih muda dan bisa tidur di mana saja.” Keesokan harinya saat pasangan ini akan pergi, sang bapak berujar kepada penerima tamu yang baik hati itu, “ Anda seharusnya menjadi bos hotel terhebat di Amerika. Mungkin suatu hari nanti saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.” Si penerima tamu ini hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

 Dua tahun kemudian, penerima tamu itu menerima sepucuk surat dan sebuah tiket untuk berangkat ke New York. Pengirim surat tersebut adalah si bapak tua yang pernah menginap di kamar penerima tamu itu. Penerima tamu pun berangkat ke New York. Setiba di New York ia dijemput oleh bapak dan ibu yang pernah ditolongnya. Mereka membawanya menuju ke sebuah perempatan jalan besar. “Itu” Si bapak menunjuk ke arah sebuah gedung besar, “ Adalah sebuah hotel yang saya bangun khusus untuk anda kelola.” Oh tidak . “ Anda pasti bergurau “ kata si penerima tamu. Sekarang gantian si bapak tua meyakinkan “ Saya jamin saya sedang tidak bergurau “ kata si bapak itu. Nama si bapak tua itu William Waldorf Astor dan bangunan tersebut adalah Waldorf – Astoria hotel yang pertama. Dan penerima tamu itu adalah George C. Boldt, ia adalah manajer pertama hotel tersebut.

Cerita di atas membuat sering membuat saya merinding. Betapa tidak, sebuah perubahan besar terjadi hanya karena hati yang mau melayani.

 Benar apa yang dikatakan oleh Martin Luhter King, Jr; “Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang anda butuhkan hanya hati yang perlu belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.”

Benarkah kalau sikap yang mau melayani dapat membawa kita pada kesuksesan hidup? Sebenarnya paradigma melayani bukanlah sesuatu yang baru.

Lebih dari 2000 tahun silam, guru spritual telah mengajarkan bahkan mempraktekkan hal yang sama. Dengan jelas ia mengatakan bahwa siapa pun yang ingin menjadi terbesar harus mau menjadi pelayan.

“Kamu tahu, bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar ia di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, “ Katanya kepada para muridnya.

Bagaimana agar kita memiliki hati untuk mau melayani?
 1. Pandanglah pekerjaan kita sebagai kesempatan untuk memuliakan nama Sang Pemberi Hidup.

2. Pandanglah kehidupan ini sebagai kesempatan untuk membantu orang lain menjadi lebih baik. Dengan demikian hidup anda akan jauh lebih bermakna. Zig Ziglar pernah berkata “ Anda bisa memperoleh apa pun dalam kehidupan ini sepanjang anda juga menolong orang lain memperoleh apa yang mereka inginkan.”

3. Sadarilah bahwa apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita selalu melakukan yang terbaik, kita pasti akan menerima upahnya. Begitupun sebaliknya.

Setelah meresapi tulisan di majalah tersebut saya jadi termotivasi untuk semaksimal mungkin dalam berkerja. Ternyata, memang pelangganlah sumber penghasilan kita, mereka yang menggaji kita, bukan pemilik atau pemimpin perusahaan.

Selamat bekerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *