Efek Mati Hidup Listrik Bagi Peralatan Rumah Tangga

Saya pernah mengalami kerugian akibat dari pasokan listrik ke rumah yang tidak stabil, waktu itu musim hujan dengan curah hujan yang tidak biasa, sangat tinggi sampai kompleks perumahan saya yang biasanya tidak kebanjiran mengalami kebanjiran yang cukup menjengkelkan, dalam seminggu tiga kali air masuk ke dalam rumah, listrik dalam sehari berkali-kali dimatikan dan dihidupkan oleh PLN.

Dampak yang paling terasa akibat mati hidup listrik yang suka-suka itu adalah rusaknya TV LED 32”  dan pengering Mesin cuci yang tidak bisa berfungsi. Kalau mesin cuci mungkin bisa dimaklumi karena usia pakai yang sudah cukup lama sekitar 8 tahun, namun TV LED belum juga 2 tahun dipakai.

Detail kejadiannya adalah setelah dua minggu peristiwa banjir itu, saya menyalakan tv, lewat 30 menit nonton acara favorit  tiba-tiba layar tv langsung berubah jadi hitam dengan ada garis-garis merah, suara TV masih terdengar jelas, saya lalu mematikan tv dan mendiamkannya beberapa saat lalu hidupkanlagi, masih sama tidak ada perubahan.

Coba browsing-browsing di internet apa penyebabnya, ketemu  jawaban mayoritas adalah karena bawaan hardware alias TV jenis itu memang sering mengalami kerusakan yang sama, banyak juga yang bilang karena tegangan yang tidak stabil, ada yang coba kasih solusi dengan coba mengecek komponen kapasitor pada rangkaian elektronik di dalamnya.
Dari internet sangat jelas dikasih tahu kode kapasitor yang kira-kira menjadi penyebab masalah itu dan disarankan untuk coba diganti.

Saya pun segera membongkar peralatan tukang listrik, maklum sebagai sarjana elektro sudah wajib hukumnya untuk memiliki seperangkat alat untuk reparasi listrik. Solder, timah, penyedot timah, Multimeter, testpen, tang potong, capit buaya adalah alat utama yang harus ada dan siap untuk digunakan kapan saja.

TV rusak digeletakan di meja makan, semua baut penutup dilepas, cek tegangan kapasitor , hati-hati dengan kapasito, kapasitor adalah komponen listrik yang berfungsi untuk menyimpan tegangan listrik, biarpun sumber listrik sudah terputus tetapi masih ada tegangan yang tersimpan  pada kapasitor dan biasanya cukup besar tergantung kapasitas dari kapasitor.

Setelah cek dengan multimeter, benar saja tegangan AC di antara dua kaki kapasitor adalah 20 Volt.. hmmm lumayan juga kalo ke strum.

Untuk menghilangkan tegangan antar kaki kapisitor maka buatlah rangkaian hubung pendek atau short circuit dengan cara menyambung kedua kaki kapasitor dengan penghantar, pastikan tangan kita tidak menyentuh langsung penghantar itu, gunakan obeng yang pegangannya tahan aliran listrik sebagai penghantar untuk proses short.

Biasanya akan muncul percikan bunga api pada saat kedua kaki kapasitor terhubung dengan penghantar listrik atau di-short.
Lepas dan lakukan short circuit sampai tidak ada lagi bunga api yang muncul, lakukan pengukuran tegangan listrik pada kedua kaki kapasitor dan pastikan tegangan sudah nol.

Sebelum di lepas buat dokumentasi dulu pakai kamera, difoto biar tidak lupa waktu pasang lagi. Setelah itu panaskan solder, beri sedikit timah panas pada titik atau di kaki kapasitor yang terhubung ke papan rangkaian, siap-siap dengan penghisap timah, setelah timah panas, secepatnya gunakan pengihisap timah.

Cabut kapasitor jangan dipaksa, jika belum bisa lepas panaskan lagi kaki kapasitor dan tarik perlahan kapasitor sampai lepas. Jangan gunakan tang potong untuk memotong kaki kapasitor.

Langkah berikutnya adalah siap-siap ke toko elektronik, beli kapasitor. Pertama coba cari ke toko elektronik dekat rumah, waktu sampai di toko langsung ditanya mau beli kapasitor yang berapa farad? 5000 atau 10000, waah besar sekali ya.. Saya mau yang 100mikro farad  nomor seri kapasitornya sekian,.. Kata kalau di sini tidak ada yang kecil, adanya  yang besar semua, kalau mau coba  ke pusat elektronik Glodok.

Hari sabtu saya ke Glodok, sampai di sana banyak toko yang tutup karena hari sabtu tapi ada juga yang buka.

Setelah ketemu toko yang jual ternyata merk kapasitor tidak ada yang sama tapi spesifikasinya sama persis, made in nya juga beda, yang asli buatan Jepang yang kualitas KW-nya buatan Cina.

Harganya juga beda. Kebetulan waktu itu ada juga orang yang beli kapasitor di toko itu, kata dia tidak masalah merknya yang penting speknya sama. Ternyata orang itu tukang reparasi TV, dia lalu tanya untuk apa saya beli kapasitor, saya bilang untuk ganti komponen TV.

Saya lalu tunjukin foto gejala TV yang rusak itu, kata orang itu… Kemungkinan besar penyebabnya adalah panel LEDnya rusak… Harganya sama dengan harga TV baru. Tapi dia sarankan untuk coba ganti kapasitor dulu.

Setelah sampai di rumah, karena penasaran langsung saya ganti kapasitornya. Hasilnya sama saja. Kapasitor aslinya saya pasang lagi dan sabtu depannya saya langsung menghubungi service resmi. Kebetulan petugas service lapangan sedang ada berada di perumahan dekat perumahan saya. Setelah selesai memperbaiki langganan di situ didatang ke rumah saya.

Hasil investigasinya kurang lebih sama dengan tukang service TV yang saya ketemu di Glodok, panek LEDnya rusah mesti diganti, harganya 2,3 Juta. Kata tukang service resminya lebih baik beli baru saja karena seri TVnya juga sudah diskontinyu.  Akhirnya saya putuskan untuk beli TV baru seharga 2,7 Juta.

Meski tidak bisa dipastikan 100 persen penyebab kerusakan TV gara-gara mati hidup listrik tapi saya yakin bahwa pemicunya adalah listrik yang tidak stabil.

Di samping itu ada kesalahan dari saya yaitu tidak mengantisipasi putus sambungnya aliran listrik saat itu. Seharusnya saya mencabut colokan kabel tv tersebut dan tidak membiarkannya tetap tercolok.

Ya begitulah pelajaran dari peristiwa itu semoga berguna.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share